Sop Ayam

Sandal Jepit

Posted on Updated on

sandaljepit

“Heh, kenapa pakai sendal jepit masuk kuliah? Keluar kamu!”

“Apa salahnya jika saya masuk memakai sendal jepit Pak?” Mahasiswa itu tampak gerah ketika dosen mengusirnya.

“Tidak sopan!”

“Hah! Tidak sopan? Dimana letak ketidaksopanannya? Lucu yah Bapak ini, Master tapi kok tidak bisa berpikir rasional sih. Apa hubungannya ketidaksopanan dengan sendal jepit Pak? Maunya Bapak lebih mempertanyakan apakah saya kerja tugas, apakah saya baca buku, atau sampai dimana diskusi saya mengenai mata kuliah ini!”

“Banyak bicara kamu! Tutup pintu dari luar…!” Wajah sang dosen tampak kemerahan.

Tanpa pikir panjang, mahasiswa itu segera berdiri dari tempat duduknya. Ia melenggang seenaknya, tampangnya begitu kesal dengan sikap dosen yang mengusirnya. Salah satu tangannya memegang sebuah binder berisi kertas seadanya sedangkan tangan lainnya mengurut kepalanya yang mungkin pening. Dosen baru saja mengusirnya dari ruangan, ia tidak berhak mengikuti kuliah kali ini. Tetapi mahasiswa yang menggunakanku ini tampaknya tidak peduli dengan pengusiran tersebut, ia mengayunkan aku sesuka hati keluar dari ruangan. Tampak begitu cuek dengan tatapan mahasiswa lain yang menggenakan sepatu. Dia tidak peduli.

Belum cukup sejam aku mengalasi kaki. Aku terpilih untuk ditukar dengan uang, mengalahkan sainganku yang lain di warung mace, sebuah warung kecil di samping pondokan tempat mahasiswa ini tinggal. Aku sebenarnya tidak tahu persis nama tuan pemilik warung tempat diriku di jual, tetapi begitulah yang sering aku dengar, mace, yah mahasiswa yang berbelanja di warung kecil itu kerap memanggil pemilik warung dengan sebutan mace. Beberapa hari yang lalu aku akhirnya tau kalau mace itu adalah panggilan gaul untuk mama atau ibu. Mungkin mahasiswa perantau itu merindukan sosok ibu mereka di kampung, dan mace yang menyediakan warung makan sekaligus barang kebutuhan sehari-hari itu bisa menepis sedikit rindu mereka. Di warung itu mereka bisa makan, makanan seperti masakan di rumah, dan jika kirimin belum datang kadang-kadang mereka mengutang dulu.

Orang yang melihatku pasti akan tahu persis kalau diriku masih baru, belum lama keluar dari plastik yang membungkusku. Setiap permukaanku masih keset, bahkan tak jarang menghasilkan suara mencicit. Warnaku yang terdiri atas dua warna masih sangat cerah, tidak kumal. Karetnya masih tebal. Tetapi mengapa dosen itu melarangnya masuk mengikuti kuliah hanya karena memakaiku? Bukankah aku jauh lebih bersih di bandingkan sepatu-sepatu yang dikenakan mahasiswa-mahasiswa lain?

Mungkin di pondokan sana, tempat mahasiswa ini tinggal, orang yang membeliku di warung mace tengah kelimpungan mencariku. Tadi setelah ia membeliku, ia sempat memakaiku masuk ke kamar mandi. Setelah itu ia masuk kamar dan menutup pintunya. Karena buru-buru hendak masuk kuliah, orang ini langsung saja menyambarku. Aku yang baru saja di beli telah raib di gunakan oleh mahasiswa yang bermaksud baik ingin mencari ilmu, tetapi malah di usir karena mengenakanku. Bisa jadi ia mendapatkan karma karena telah memakai barang yang bukan miliknya. Aku rasa bukan itu, aku menjadi terlarang karena manusia-manusia itu membuat aturan yang menyesakkan, etika bersepatu yang entah perbuatan siapa, mungkin hanya isu yang sengaja di sebar pembuat sepatu agar produknya laku.

Pijakanku memasuki sebuah gedung. Isi gedung terlihat agak berantakan. Di tempat ini, lebih banyak mahasiswa yang menggunakan teman-temanku, sesama sendal jepit. Beberapa di antara teman-temanku itu sudah tua dan usang bahkan telah menipis. Beberapa di antaranya meski sudah tua tapi masih bersih, tampaknya sang pemilik begitu merawatnya. Dan beberapa lainnya bertuliskan nama sang pemilik sebagai sebuah identitas.

Mahasiswa itu memarkirku di depan pintu. Melepasnya begitu saja hingga membuatku tergeletak tak beraturan, bahkan bagian kiriku tertelungkup karena di lepas bebas, tampaknya ia melepasku dengan rasa jengkel yang membuncah dan di lampiaskannya padaku. Ia pun memasuki sebuah ruangan tanpa alas kaki, ruangan yang di penuhi mahasiswa.

“Kok lesuh?” Tanya mahasiswa lain di dalam ruangan.

“Di usir dosen gara-gara memakai sendal jepit. Huh kesalnya…” Ia pun duduk di atas tikar tepat di samping temannya. “Kenapa sih dilarang masuk kuliah kalau memakai sendal jepit?”

“Hehe… Katanya sendal jepit tidak mencirikan intelektualitas. Tidak berkelas. Tapi kita ini kan mahasiswa, kenapa harus mengikuti aturan yang tak jelas seperti itu. Hehehe…”

“Iya, masalahnya pembatasan tidak logis itu membuat kita tak mampu mengaktualisasikan diri.

“Sudahlah! Oh iya tadi kamu di cari ketua himpunan, katanya proposal untuk kegiatan besok kamu simpan dimana?”

Percakapan merekapun berlanjut, tampak begitu serius.

###

“Sendal jepit siapa ini? Pinjam ya!” Belum juga ada jawaban dari pertanyaannya, mahasiswa lain segera mengenakanku. Membawaku berjalan menyusuri koridor hingga tiba di depan ruangan lain yang juga di huni oleh beberapa mahasiswa. Di dalam sana, ia di sambut tiga rekannya yang akan mengajaknya bermain domino.

“Malas pakai sepatu! Gerah!” Ucap seorang mahasiswa di depan pintu ruangan lain, ruangan yang berhadapan dengan tempatku di parkir. Tampak ia menjinjing sepatu yang telah usang.

“Jadi? Bukannya kamu tidak membawa sendal?” ucap mahasiswa lainnya yang tengah memegang map transparan berwarna hijau yang tampaknya berisi kertas-kertas.

Mahasiswa pertama melihatku, melihat arah mata temannya, mahasiswa lainnya ikut memandangiku. Mahasiswa pertama melangkah dengan hati-hati. Ia melirik ke dalam ruangan, yang dia lihat hanya empat orang yang disibukkan dengan kartu domino. Segera ia mengenakanku dan segera berjalan meninggalkan gedung itu bersama temannya.

Kaki dari kedua mahasiswa itu terdengar jelas menghentak lantai-lantai kampus. Menghentakkan dua pasang sendal jepit menelusuri koridor. Membawaku berjalan menjejaki tempat-tempat baru tapi mungkin tidak bagi sendal jepit di sebelahku yang tampak telah tua dan menipis.

“Aku lebih suka memakai sendal jepit, lebih nyaman. Sepatu adalah penyiksaan dan penindasan!”

“Aku rasa semua orang akan sependapat dengan hal itu. Aku juga tak begitu menyukai barang yang sangat menggerahkan itu. Memakainya berjam-jam membuat kakiku terasa terbakar.”

“Lihat sendal jepitku ini memang sudah butut tapi masalah pengalaman jangan di tanya, dia sudah senior, sudah makan asam garam jalanan jenis apapun! Malah kalau kamu tanya alamat ke dia pasti dia bakal mengantarkan kamu kesana.”

“Hallah… kamu ada-ada saja. Entah sendal jepit siapa ini, kayaknya masih baru, masih mulus.”

“Hahahaha…” Keduanya tertawa begitu renyah.

###

Aku sangat bahagia di ciptakan sebagai sendal jepit, walaupun di letakkan di bawah dan di injak-injak, setidaknya aku berguna bagi manusia. Aku melapisi antara kaki dengan sesuatu yang akan dipijaknya. Dengan harga yang terjangkau, aku bisa dimiliki oleh semua orang. Baik kaya ataupun miskin. Tak mengenal derajat bangsawan ataupun masyarakat biasa. Tidak memandang profesi, petani, pekerja kantor, ibu rumah tangga, mahasiswa dan lainnya.

Kami di produksi untuk siap menghadapi cuaca basah ataupun kering. Tak pernah mengeluh ketika di penuhi kuman kaki. Tak marah ketika di hitamkan debu. Lagipula apa gunanya aku marah dan mengeluh jika akhirnya masuk tong sampah juga. Ketika salah satu taliku putus atau ketika aku telah usang dan menipis.

Kami tercipta untuk menemani langkah kaki ke pantai. Sang pemilik bercerita dengan laut sedangkan kami akan bermesraan dengan pasir. Atau setia mengawali langkah menuju puncak gunung. Sang pemilik akan berbahagia mencapai puncak sedangkan kami bercinta dengan lumut basah. Juga tak pernah letih menghabiskan waktu untuk bersua dengan lantai atau bersahabat dengan karpet. Semua siap kami jejaki.

Tetapi banyak hal yang membuat orang-orang ini harus mewaspadai memakaiku. Mereka memakaiku dengan mencengkram tali penunjang kehidupanku menggunakan dua jarinya, cengkraman yang terlalu sering tersebut dapat menyebabkan jarinya bengkok. Tali karet yang menggesek di antara dua jari kaki juga bisa menyebabkan kulit kaki menjadi melepuh. Dan aku di desain tidak memiliki lengkungan pendukung yang bisa menyebabkan tumit sakit jika memakainya berjalan jauh. Aku tidak memiliki penutup sehingga bisa menyebabkan kulit sang pemakai menjadi belang jika di gunakan di bawah terik matahari.

Paling tidak resiko itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan sepatu. Sepatu bisa menyebabkan kaki panas bahkan bisa menghasilkan bau apek. Apalagi sepatu berhak tinggi, benda ini dapat menyebabkan betis dan tumit menjadi sakit bahkan bisa menyebabkan varisies yang bisa mengakibatkan seseorang sulit untuk berjalan bahkan berdiri.

Walaupun terkadang aku di nista tapi tak dipungkiri kalau aku sangat dibutuhkan. Lucunya, walaupun hargaku cukup terjangkau, tak jarang aku diambil orang secara sengaja atau pun tidak sengaja. Seperti hari ini, meski umurku belum lama tetapi aku telah dikenakan oleh empat orang sekaligus. Mungkin ke empat orang itu memiliki hubungan tetapi mereka tak saling tahu kalau aku dikenakan satu dan lainnya. Jika keadaannya begini, kadang aku sedih karena tercipta dan menyebabkan dosa.

###

Kedua pemuda itu memasuki sebuah gedung yang memiliki bentuk berbeda dari pada gedung-gedung yang telah aku jejaki sebelumnya. Gedung ini lebih megah dengan desain interior yang sangat menarik. Keramik-keramik yang lebih mewah. Lebih enak di pijak.

DILARANG MEMAKAI KAOS OBLONG DAN SENDAL JEPIT

Mahasiswa yang mengenakanku membaca pengumuman itu. Pengumuman yang tertera di depan ruangan. Di tulis dengan huruf Arial berukuran 80 yang di cetak di atas kertas A4 di tempel tepat di tengah pintu kaca.

“Gimana ini?” Tanyanya sambil melihatku.

“Tidak apa-apa!”

“Kamu yakin?”

Temannya tidak menjawab.

Mereka pun membuka pintu kaca itu. Seorang lelaki sedang sibuk dengan surat-surat, ia tampaknya menyadari kehadiran kedua mahasiswa tersebut.

“Mau apa kalian?”

“Mau ketemu Pembantu Rektor bagian Kemahasiswaan Pak.”

“Kalian baca tulisan di depan, memakai kaos oblong dan sendal jepit di larang masuk?” Pertanyaannya terdengar sinis.

“Memangnya kenapa Pak, kalau kami pakai kaos oblong dan sendal jepit?

“Itu berarti tidak sopan.”

Aaah… lagi-lagi masalah ketidaksopanan. Mengapa dengan mengenakanku, seseorang dikatakan tidak sopan? Apakah karena mengenakanku diasosiakan dengan pergi ke kamar mandi atau WC? Atau karena hargaku yang terlalu murah? Apakah kesopanan di dunia manusia sebatas materi?

“Bukannya kami tidak sopan Pak, tapi…

“Kami merasa terhina kalau kalian menggunakan sendal jepit.” Bapak itu langsung memotong pembicaraan sang mahasiswa.

Heh… dimana letak keterhinaannya? Aku yakin dia memakai sendal jepit bukan bermaksud menghina, begitu pula orang yang memakaiku untuk masuk kuliah, ia memakai sendal jepit tidak bermaksud menganggu jalannya perkuliahan.

“Siapa yang mau menghina Pak? Kami hanya ingin bertemu Bapak Pembantu Rektor. Kami menghormati beliau dan sepatu hanyalah teori etiket modern yang tidak harus digunakan. Hanya formalitas Pak!”

Yah tradisi bersepatu hanya teori etiket modern yang menyesatkan yang entah di buat oleh siapa dan sejak kapan. Jika batasan akan kesopanan itu masih problematik, lalu bagaimana mungkin kesopanan yang sifatnya sangat subjektik di pakai untuk aturan kolektif? Mahasiswa memang baik, selalu membelaku.

“Dengan gaya berpakaian kalian itu berarti kalian menganggap remeh Pak PR dan institusi kita.”

“Awalnya tidak sopan, kemudian menghina sekarang menganggap remeh. Bapak ini ada-ada saja. Apa hubungannya semua itu? Itu hanya perasaan Bapak saja sebagai individu bukan sebuah penghormatan terhadap birokrasi. Bapak berpikir pakai apa sih?”

“Dasar, mahasiswa-mahasiswa tak berakhlak!”

“Tunggu dulu Pak. Apa hubungan akhlak dengan sendal jepit. Memangnya Tuhan menilai seseorang dari apa yang dikenakannya? Katanya ini kampus, katanya tempat ini adalah sarangnya orang intelektual, namun kenapa malah banyak yang berpikiran dangkal seperti Bapak? Bapak pasti lebih suka memakai sendal daripada sepatu yang membuat kaki berbau apek kan?”

“Kalian betul-betul mahasiswa kurang ajar! Keluar!” Suaranya terdengar begitu lantang. Menggema. Memantul di antara tembok-tembok bercat putih di ruangan tersebut.

“Ada apa ini?” Seorang lelaki bertubuh tinggi dan besar keluar dari sebuah ruangan. Ia mengenakan pakaian safari dan kakinya di alasi sendal jepit.

“Ini Pak, ada mahasiswa mau ketemu Bapak tapi mereka memakai kaos oblong dan sendal jepit, makanya saya larang masuk.”

“Hanya karena kami memakai kaos oblong dan sendal jepit dilarang ketemu Bapak, malah kami di katakan tidak sopan, menghina bahkan meremehkan. Saya heran Pak!”

“Bukankah jauh lebih banyak yang lebih menyukai memakai sendal jepit daripada sepatu. Seharusnya asas demokrasi di mulai dari sini Pak. Sendal jepit tidak layak menjadi alasan tata krama atau sejumlah etika yang sebenarnya bukan milik kita ” Sambung mahasiswa lainnya.

“Iya Pak, Bapak sendiri memakai sendal jepit, kenapa kami tidak bisa.”

“Itu dia Pak, Bapak pasti merasa lebih nyaman dengan menggunakan sendal itu. Sekarang,terlalu banyak barang yang dikomsumsi bukan berdasarkan fungsi tetapi hanyalah symbol belaka. Apalah guna mahasiswa berpakain bagus, rapi dan bersepatu tetapi tak berguna bagi masyarakat.”

Sang Bapak tampak kelimpungan mendapat serangan bertubi-tubi tersebut.

“Saya baru dari kamar kecil, jadi saya menggunakan ini agar tidak repot. Kami tidak bermaksud membelenggu kreativitas kalian dengan pelarangan menggunakan sendal jepit. Kami menyadari, birokrasi hanyalah manusia, tidak bersih dari nafsu, tetapi di tempat ini kami telah menyepakati untuk berpakaian rapi dan indikatornya itu tanpa kaos oblong dan sendal jepit. Saya tak usah menyampaikan banyak pembenaran mengenai ini. Sebenarnya maksud kalian menemui saya untuk apa?”

“Hmm… begini Pak, kami mau…”

“Kami mau mengurus beasiswa Pak!”

“Iya Pak, bagaimana caranya kami membeli sepatu, kalau biaya kos saja masih nunggak, makan pun harus ngutang.”

“Kalau begitu silahkan masuk!”

Kedua mahasiswa itu saling berpandangan, tampak begitu sumringah. Bapak yang di temuinya di awal tampak mencibir ke arah mereka. Namun mereka tidak peduli mereka segera masuk ke ruangan Bapak Pembantu Rektor.

Aku pikir mereka ikhlas membelaku rupanya mereka juga menginginkan sepatu. Benda yang nantinya akan meletakkan pada posisi terhina.

6 September 2008

Penulis: Winarni K.S
(http://inart.wordpress.com)

Iklan

Senyum

Posted on Updated on

Entah mengapa kali ini saya tertarik untuk membahasa arti sebuah senyuman.Awalnya, Ketika saya membaca artikel bahwa hampir 80% kantin kejujuran yang dibuat disekolahan-sekolahan ternyata mengalami kabangkrutan. Dan sayapun tersenyum ketika membacanya. Apa sebenarnya yang terjadi dinegeri ini?

Menurut hasil survey badan pariwisata dunia, orang Indonesia adalah termasuk orang yang gemar tersenyum, kemudian Thailand juga termasuk didalamnya. Malah kalau tidak salah, Thailand dijuluki dengan istilah “Negeri Seribu Senyum”. Yang tidak masuk akal adalah mengapa orang-orang yang suka tersenyum tersebut bisa melakukan kerusahan seperti di Thailand baru-baru ini, atau Kerusuhan Mei 1998 di negara kita.

Masih ingatkah dengan mantan presiden Soeharto, beliau dijuluki “The Smiley General” alias Jendral yang selalu tersenyum,yang dahulu selalu menghiasi hari-hari kita semasa orde baru,artis-artis ibukota yang selalu tersenyum juga jika didepan kamera walaupun mereka ketahuan berbuat asusila, atau senyum politikus-politikus kita walaupun terbukti tidak pernah menepati janji semasa kampanye, atau senyum pejabat-pejabat pemerintah kita yang sebagian besar sebenarnya adalah pelaku korupsi di negeri kita ini .Senyum memang alat yang ampuh untuk melakukan kamuflase.

ketika kita masuk ke sebuah bank, kita akan disamput sebuah senyuman mulai dari satpam penjaga pintu, kemudian diberi senyuman juga oleh pegawai-pegawai bank yang cantik-cantik. Iman Samudera cs juga tersenyum ketika berhasil membunuh 200 orang lebih di Bali atau senyum Ryan yang menghiasi televisi dan koran-koran yang telah menghabisi koban-korbannya.Bandingkan dengan senyum orang tua ketika anaknya lulus kuliah, menikah atau mempunyai anak. Atau senyum Kang Parto, Mbak Juminem, Mbah Tumijan yang baru menerima uang gaji mereka yang hanya beberapa lembar.Senyum memang bisa berarti kebahagian, rasa syukur atau juga bisa juga alat untuk menunjukan eksistensi seorang individu.

“Senyum itu Sodaqoh” kata Nabi, saya setuju sekali,walaupun kadang senyum saya hilang ketika melihat orang-orang yang mengaku paling taat beragama dan paling taat dengan Rasullah selalu memasang wajah garang dan tidak toleran, sehingga orang-orang disekelilingnya merasa terintimidasi.Jika anda terbiasa makan direstoran-restoran mewah kemudian makan dipinggir jalan jangan harap anda akan mendapat pelayanan dengan senyuman ketika melayani anda, atau ketika anda naik bis umum jangan harap anda akan mendapat senyuman dari kru-nya, jangan samakan jika anda naik pesawat terbang yang akan dapat senyuman dari masuk ke pesawat sampai turun lagi dari para pramugarinya. Senyum kadang mahal harganya.

Oleh orang tua, kita dianjurkan selalu tersenyum dengan orang lain untuk menunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang beradab dan punya sopan santun. Tetapi di sisi lain hampir semua penipu adalah orang-orang yang selalu tersenyum.Senyum memang mengandung seribu arti, tergantung dari nasib anda akan mendapat senyum yang mana. -:)

Rahasia “The Secret”, Karena Tuhan Akan Selalu berkata “YES!!!” Pada Hamba-NYA

Posted on Updated on

Rahasia “The Secret”

Ketika buku the Secret karya Rhonda Byrne beredar, sebenarnya saya tidak begitu ngeeh , Walaupun disampulnya tertulis Best Seller tetap kurang tertarik. Cuma baca saja sebentar kemudian pergi cari buku lainnya. Tetapi setelah orang-orang ramai membahasnya, saya kembali ke toko buku tersebut.  Bukan untuk membelinya tetapi membacanya lagi sampai habis J.Selesai membaca tetap belum begitu memahaminya. Entah karena bahasanya sulit dimengerti  atau tidak berkah saja sehingga tidak masuk ke otak.

Sampai suatu ketika, saya membaca Quatum Ikhlas karangan Erbe Sentanu (yang ini aku beli bro!!!). Awalnya cuma tertarik disampulnya ada tulisan  ”Free Software Upgrade Otak”. Gila! bagaimana caranya? Pake bahasa apa untuk memprogramnya otak?Bagaimana algoritmanya?. Baru setelah membacanya sampai selesai, baru saya mengerti. Program bawaan buku tersebut akan mengeluarkan gelombang Alpha ketika dijalankan.Gelombang Alpha ini biasanya dikeluarkan pada saat orang berserah diri  atau khusu’, kabarnya begitu. Dengan bantuan gelombang alpha tadi, gelombang otak kita akan mengikuti dalam keadaan Alpha juga dan siap membuat permintaan/Doa. Di the Secret sendiri ada 3 untuk cara afdolnya sebuah do’a yaitu Tulislah permintaan Anda, Bayangkan dan Rasakanlah seolah-olah permintaan anda terkabul dan yang terakhir bersyukurlah. Serahkanlah semuanya kepada Tuhan (Ikhlas).Biarlah alam semesta (versi the Secret) / atau Tuhan bagi kita yang beragama yang mewujudkannya untuk kita.Mungkin agak terasa janggal , tetapi kalo dipikir-pikir benar juga. Diantara kita pasti sering mendengar nasihat dari orang tua kita agar kita selalu sabar,ikhlas dan tawakal agar do’a kita cepat terkabul.

Law of Attraction

Pernah dengan hukum ketertarikan (Law of Attraction) nya Rhonda Byrne dalam bukunya The Secret. Dalam buku itu dia mengatakan bahwa apa yang terjadi terhadap diri kita karena kitalah yang menariknya”, lebih tepatnya apa yang kita pikirkan adalah yang akan terjadi terhadap kita. Kalo kita berfikir negative maka berarti kita mengundang terhadap hal-hal negatif terhadap kita.Kalo kita berfikir susah kita akan susah, kalo kita berfikir sedih  kita akan sedih juga.

Tetapi jangan salah! kalo kita bilang ”Saya tidak ingin gagal” berarti sama saja dengan ”Saya ingin gagal”. Kalo anda bilang ”Saya tidak ingin miskin” berarti ”Saya ingin miskin” karena alam bawah sadar kita tidak mengenal kata ”Tidak”. Buktinya sebagai berikut. Kalo anda pernah mengikuti seminarnya Tung Desem Waringin dia akan selalu bilang gini (coba anda praktekan!)

Sekarang tutup mata anda. Dan tidak boleh!! Dilarang dengan keras!! untuk membayangkan seekor gajah!!!!!!”

Ahaa!!gimana hasilnya. Saya jamin malah gajah yang muncul. Karena itu tadi, otak bawah sadar kita tidak menerima kata tidak.Mau coba lagi…

”Tutup mata anda lagi. Dan sekarang dilarang membayangkan bunga warna merah”

Oke sekarang saya mau tanya. Yang muncul warna apa? Merahkan. Kalo anda dilarang membayangkan bunga warna merah. Maka perintahkan alam bawah sadar anda dengan bunga warna putih.Kalo anda ingin alam bawah sadar anda tidak muncul seekor gajah, perintahkan alam bawah sadar anda untuk memunculkan seekor sapi,jerapah atau apa saja. Kalo anda sedang sedih atau kecewa, segeralah isi alam bawah sadar anda dengan hal-hal yang menyenangkan.Jangan fokus pada masalah anda.Fokuskanlah ke hal-hal lain yang positif. Rasakan dan serahkanlah sama yang di Atas.

Karena Tuhan Akan Selalu Berkata ”YES!!”

Dalam sebuah seminar ”Cara Gila Jadi Pengusaha” yang dibawakan oleh Bapak Purdi E. Candra ( Pendiri Primagama). Beliau berkata bahwa apapun yang diminta pasti Tuhan akan berkata ”YA”. Maka berhati-hatilah dalam berprangsaka, peliharalah selalu perasan positif, segera netralisir jika ada perasaan2 negatif. Ingatlah bahwa Tuhan selalu berkata ”Yes!!!” bukan Oh Yes!, Oh No!,Oh Yes!,Oh No

Ada sebuah hadist  (maaf  kalo salah) yang isinya sebagai berikut ” Aku adalah seperti yang disangkakan oleh hamba-Ku, dan Aku bersama hamba-Ku ketika ia berdoa kepada-Ku..! mungkin hadist tadi bisa menjelasakan secara agamis.

Ada kalimat yang selalu aku ingat dari Pak Purdi yaitu “Jangan terlalu banyak menggunakan otak kiri karena otak kiri bisa mendatangkan perasaan2 negatif seperi rasa takut,was-was dan keraguan.Gunakanlah otak kanan Anda atau jangan pake otak sekalian”

Yes,You’re right Sir!. Sekarang saya jadi jarang menggunakan otak saya.

So,Kesimpulannya?

Mulailah menyukuri apa yang ada didiri kita,di sekeliling kita. Bersyukurlah dengan Ikhlas dengan semua karunia-Nya. Serahkan semua urusan kita sama yang diatas. Karena Law of Attraction akan selalu bekerja didiri kita, tidak tergantung percaya atau tidak percaya.Law of Attraction bekerja sekerja seperti hukum gravitasi. Tidak peduli anda orang baik atau jahat kalo jatuh pasti akan ke bawah juga.

Dan jangan sekali-kali berkata begini ”Saya tidak ingin jadi karyawan seumur hidup” tahukan artinya kalimat tersebut sekarang….?

Jalan Cinta….

Posted on Updated on

Ada 2 orang yang selalu aku tunggu tulisannya yaitu Taufik Ismail dan Jalaluddin Rahmat.Tulisan2 beliau ini selalu mencerahkan dan penuh hikmah. Puisi-puisi yang dilantunkan oleh Taufik Ismail selalu indah penuh makna, apalagi bila dibawakan langsung oleh beliau.Enak ditelinga,sejuk dihati.

Ide tulisan ini  berasal dari buku yang berjudul “The Road to ALLAH” karangan Jalaluddin Rahmat, buku yang bagus untuk bahan perenungan bagaimana kita seharusnya menjadikan cinta sebagai agama.

“Ketika  syariat membutakan mata kita dari Allah dan ilmu pengetahuan menjadi hijab/penghalang hati dari Allah”

dahulu kala,pada zaman nabi Musa. hiduplah seorang gembala yang  miskin tetapi mempunyai rasa cinta yang luar biasa kepada Allah.Setiap hari sambil mengembalakan ternaknya, gembala tadi melantukan jeritan hatinya.

“Duhai Pangeran tercinta,dimanakah Engkau, supaya aku dapat mempersembahkan hidupku pada MU, Dimanakah Engkau supaya aku dapat menghambakan diriku pada MU. Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernafas, karena berkat-Mu pula aku hidup dan bernafas.Aku ingin mengorbankan dombaku ke hadapan kemulian-MU.Wahai Tuhanku dimanakah Engkau supaya aku dapat menjahit baju-MU,supaya aku dapat menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-MU?Dimanakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkaan sepatu-MU dan membawakan air susu untuk minuman-MU“.

Hingga suatu saat Nabi Musa lewat dan melihat gembala tadi melantukan nyanyian hatinya,”Dengan siapa kamu berbicara”.tanya Musa.Gembala tadi menjawab ,

“Dengan ia yang telah menciptakan kita.Dengan Dia yang telah menguasai siang dan malam, bumi dan langit”.

Musa murka mendengar jawaban gembala tadi. “Betapa beraninya kamu berbicara seperti Tuhan,apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran.Kamu harus menyumpalkan kapas kemulutmu supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu.Apakah Tuhan seorang manusia biasa, sehingga harus memakai sepatu?Apakah Tuhan seoarng anak kecil sehingga membutuhkan susu?”

Gembala tadi bangkit dan menangis setelah tahu yang menegurnya adalah seorang nabi,dia bergetar ketakutan dan berkata “Kamu telah menyalakan api dijiwaku.Sejak hari ini aku akan berjanji mengatupkan mulutku selamanya”.

Setalah itu nabi Musa pergi,dengan perasaan bahagia karena merasa telah meluruskan jiwa yang sesat.Tetapi ditengah perjalanan Allah SWT menegurnya. “Mengapa engaku berdiri diantara Kami dengan kekasih yang setia?Mengapa engkau pisahkan pencinta dengan kekasih dicintainya?Kami telah mengutus engkau untuk menggabungkan kekasih dengan kekasihnya,bukan memisahkan ikatan diantaranya”.

Cerita tersebut menggambarkan bahwa untuk mendekat ke Allah Swt tidak diperlukan kecerdasan yang tinggi dan keilmuan yang dalam. Malah terkadang pengetahuan syariat kita justru membutakan hati kita dan ilmu pengetahuan yang kita miliki menjadi penghalang dari Allah swt.

Mengapa kita menggambarkan Tuhan yang bukan Maha Penyanyang dan Mengapa kita harus menggambarkan Nabi kita dengan wujud seram dan menakutkan

Pada jaman dahulu ada seorang muadzin yang hidup dinegara yang mayoritas non muslim.Muadzin ini bersikeras agar melantukan adzan dengan pengeras suara. Teman-temannya menasehati dia supaya tidak usah memakai pengeras suara, tapi muadzin tersebut menolak dengan alasan syiar islam.Hari-hari berlalu dan tetap si muadzin tadi menolak saran teman-temannya untuk tidak menggunakan pengeras suara.hingga pada suatu hari didatangai seorang Bapak,dengan membawa buah-buahan sebagai tanda terima kasih kepada muadzin tadi.”Jika aku punya emas permata, akan aku masukan kedalam mulutmu sebagai tanda terima kasihku kepadamu” kata Bapak tadi.

Selidik punya selidik, ternyata Bapak tersebuat mempunyai seorang putri yang sangat tertarik dengan ajaran Islam. Sehingga Bapak tadi membatasi pergaulan dengan sekelilingnya, sehingga putrinya tersebut jatuh sakit. Ketika sakit itulah dia mendengar adzan dan bertanya kepada kepadanya Bapaknya.”Suara apakah itu Ayah“.”itu suara adzan anakku,itu adalah panggilan bagi orang islam untuk menunaikan ibadahnya“.

Mengapa jelek sekali suaranya!!”.Kata anak tersebut dan sejak saat itu pula hilang ketertarikannya dengan Islam. Cerita tersebut adalah karangan Jalaluddin Rumi, beliau ingin memberi contoh bagaimana seharusnya kita beragama.

Jadi,Apakah masih pantas kita memakai pakaian putih-putih dengan suara lantang “Allahu Akbar!!” dijalan-jalan?Apakah masih pantas amar ma’ruf dengan membawa pedang kemana-mana?

mengapa tidak kita ambil jalan Ibu Theresa dengan kaum papa di India?atau jalan Gandhi dengan Ahimsanya.Atau jalan Dr. Junus dengan bank untuk kaum miskin di Bangladesh.Nelson Mandela yang dapat memaafkan kaum kulit putih yang telah memenjarakannya selama bertahun-tahun.

Bisakah kita menampakan sifat kita seperti ketika Nabi Muhammad ketika dilempari batu ketika berdakwah, dan Beliau memaafkannya…

Bisa kita menampakan sifat kita seperti Nabi Muhammad diludahi tiap hari oleh seorang yahudi dan Beliau tetap dapat memaafkannya….

“…Ada dua hal mengapa aku rela kamu meninggalkanku. Pertama aku tidak cinta kamu, tetapi menyayangimu.Aku akan merelakan apa saja asal kamu bahagia! yang kedua kamu bukanlah yang terbaik bagiku..Aku memilih kamu karena aku sanggup menerima segala kekuranganmu….”

Hukum Petani

Posted on

petaniTidak semua apa yang direncanakan akan terwujud seketika. Terkadang harus melawati jalan yang berliku penuh dengan rintangan. Seperti sedang mengejar suatu project misalnya . Kita mencoba menawarkan produk ke calon customer, presentasi ke sana-sini, bersaing dengan competitor dan ketika project sudah ditangan bukan berarti masalah selesai. Terkadang muncul gangguan dari kanan-kiri, dan terkadang juga hasil yang peroleh tidak sesuai dengan harapan kita. Itu semua adalah realita atau cerita sesungguhnya dalam kita bekerja.

Apa yang dilakukan sebenarnya sama dengan proses bercocok tanam yang telah dilakukan oleh para petani. Untuk memanen padi, mereka menunggu paling tidak 3 bulan. Banyak proses yang dilalui supaya hasil panennya maksimal. Sebelum menyemai bibit mereka harus mencangkul/membajak sawah.Ini artinya kita membutuhkan persiapan dan modal untuk melakukan suatu pekerjaan.Semua harus dipersiapkan sebaik mungkin.

Setelah bibit disemai, mereka harus merawatnya dengan cara memberi pupuk. Proses pemberian pupuk ini sama saja kita harus menjalin hubungan yang baik dengan customer.Kemudian harus menyingkirkan hama-hama yang ada agar tidak mengganggu tanaman yang ada. Ini sama saja dengan supaya kita mampu menghadapi rintangan-rintangan atau gangguan yang berpotensi menghalangi pekerjaan kita.

Mengalami kerugian!ini adalah realita yang harus dihadapi. Setelah proses panjang yang melelahkan tidak semua berakhir dengan manis. Hasil panen tidak maksimal atau malahan gagal panen. Ini artinya apapun hasil dari proses yang dilalui kita harus siap dengan segala resiko dan hasil akhirnya.

Ini 6 hukum petani yang dapat kita pelajari agar kita menjadi pribadi yang tangguh tidak mudah menyerah.

#1 Apa yang kita semai, Apa yang akan kita petik.
Jangan harap memanen jagung kalo yang kita semai adalah biji semangka. Maka selalu berbuat baiklah dengan sesama jika kita ingin hal-hal yang baik yang akan kita petik.

#2 Setelah menanam benih, Kita harus merawatnya.
Ini artinya ada PROSES atau semuanya butuh waktu dan tentu saja butuh usaha.

#3 Proses tidak bisa instant. Perlu waktu
Ini disebut juga delayed gratification. Para petani tahu mereka harus bekerja keras agar menikmati hasil yang maksimal.

#4. Ada cara yang benar dan ada cara yang salah untuk melakukannya.
Kebanyakan para petani melakukan metode bercocok tanam berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari orang tua mereka. Bagaimana meraka bercocok tanam, memlih bibit dan lain sebagainya adalah cara terbaik yang telah dibuktikan kebenaranya oleh para orang tua mereka. Ini artinya kita harus selalu belajar dari keberhasilan orang lain.

#5 Waktunya Panen (tapi tidak selalu!)
Mungkin kita telah melakukan langkah 1 sampai 4 dengan baik dan siap menikmati panen. Tetapi terkadang kenyataannya berbeda. Mengapa? Mungkin karena perubahan cuaca atau terkena sehingga menggagalkan waktu panen

#6 Kurangi Kerugian
Ini saatnya membuat keputusan, mencabut semua tanaman yang berpenyakit lebih menguntungkan jika biaya pemeliharaan terlalu besar. Karena melanjutkan merawat bibit yang telah rusak sama saja dengan kesia-sian. Jangan harap mendapatkan hasil maksimal dari bibit yang telah rusak.

Steve Jobs “Saya tetap bodoh!”

Posted on Updated on

steve-jobsFuneral Dream -: Steve Jobs (CEO of Apple Computer) Story- Funeral Dream –
I remember the first i wrote this. some inner voice inspired me to share with
other seekers. may be their experience, ur experience or my experience can be
inspired other people :)Saturday, September 22, 2007
Steve Jobs (CEO of Apple Computer) Story
Terjemahan dalam bahasa Indonesia (dapat dari milis id-mac, diposting oleh
Untung Wijaya)

Saya diberi kehormatan untuk bersama kalian di hari pertama di salah satu
universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah. Bahkan
sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat dalam upacara wisuda. hari ini
saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya. Hanya itu, tidak lebih.
Hanya tiga cerita.

Cerita pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik.
Saya putus kuliah dari Reed College setelah 6 bulan pertama, tapi saya tetap ada
di kampus selama 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar berhenti. Jadi
kenapa saya keluar, Dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang
mahasiswi muda dan tidak menikah, ia memutuskan untuk menyerahkan saya untuk
diadopsi. Ia sangat menginginkan agar saya diadopsi oleh lulusan universitas,
jadi semuanya sudah diatur agar saya akan diadopsi pada
saat lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Hanya saja, saat saya lahir,
mereka ternyata menginginkan seorang anak perempuan. Jadi orangtua angkat saya,
yang masuk dalam daftar tunggu, menerima telepon di tengah malam yang
menanyakan: “Kita ada satu bayi laki-laki, kalian mau” Mereka berkata, “Tentu
saja.” Di kemudian hari ibu kandung saya menemukan bahwa ibu angkat saya tidak
pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya tidak pernah lulus SMA. Ibu kandung
saya menolak menandatangani berkas akhir adopsi. Ia baru rela beberapa bulan
kemudian ketika orangtua angkat saya berjanji bahwa saya akan kuliah suatu hari
nanti.

Dan 17 tahun kemudian saya benar-benar masuk kuliah. Namun bodohnya saya memilih
tempat kuliah yang nyaris sama mahalnya dengan Stanford, dan seluruh tabungan
orang tua angkat saya habis untuk membiayai kuliah saya. Setelah enam bulan,
saya tidak dapat melihat arti kuliah ini.Saya tidak punya tujuan hidup dan tidak
mengerti bagaimana kuliah dapat
menolong saya memiliki tujuan hidup. Sedangkan saya sudah menghabiskan semua
uang orangtua saya yang telah mereka tabung seumur hidup. Jadi saya memutuskan
untuk keluar dan percaya semuanya akan beres. Cukup menakutkan juga saat itu,
tapi jika saya tengok kembali itu adalah salah satu keputusan terbaik yang
pernah saya buat. Begitu saya putus
kuliah saya dapat berhenti masuk kelas wajib yang tidak saya sukai, dan mulai
masuk ke kelas yang tampaknya menarik.
Tidak selamanya romantis sih. Saya tidak punya kamar asrama, jadi saya tidur di
lantai kamar teman saya, saya menukar botol coke di deposit 5 untuk membeli
makanan, dan saya akan berjalan sejauh 7 mil melintasi kota setiap minggu malam
untuk mendapatkan makan malam yang enak di
kuil Hare Krishna. Aku sangat menyukainya. Dan ternyata dengan menuruti rasa
ingin tahu dan intuisi, saya memperoleh hal yang berharga di kemudian hari. Ini
salah satu contohnya:

Reed College pada masa itu mungkin memiliki tulisan kaligrafi terbaik di negeri
ini.Di semua poster kampus, semua label di setiap laci, ditulis tangan dengan
kaligrafi yang indah. Karena saya sudah keluar dari kuliah dan tidak harus
mengambil kelas tertentu, saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi untuk
belajar caranya. Saya belajar tipe tulisan serif dan san serif, tentang
memvariasikan jumlah jarak antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang
membuat para tipografis hebat menjadi hebat. Itu adalah sesuatu yang indah,
bersejarah, berseni, sedemikian rupa sehingga ilmu pengetahuan tidak
dapat menyamainya, dan menurut saya itu sungguh mengagumkan.
Tidak ada satupun yang sepertinya akan diterapkan dalam kehidupan saya. Namun
sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macintosh pertama,
semuanya saya ingat kembali. Dan kami merancangnya di Mac. Itu adalah komputer
pertama dengan tipografi yang indah. Jika saya tidak ikut kelas itu di kuliah,
maka Mac tidak akan punya beragam tulisan atau huruf yang berjarak dengan
proporsional. Dan karena Windows hanya meniru Mac, sepertinya tidak ada PC yang
akan memiliki tipografi yang indah. Jika saja saya tidak pernah putus kuliah,
saya tidak akan pernah belajar di kelas kaligrafi ini, dan komputer pribadi
tidak akan
memiliki tipografi yang bagus seperti sekarang ini. Tentu saja tidak mungkin
menghubungkan titik-titik itu ke masa depan saat saya masih di kampus. Tapi
terlihat sangat, sangat jelas jika ditinjau sepuluh tahun kemudian. Sekali lagi,
kita tidak dapat menghubungkan titik-titik di masa depan; kita hanya dapat
menghubungkannya saat kita menengok ke belakang. Jadi kita harus percaya bahwa
titik-titik itu suatu saat akan terhubung di masa mendatang. Kita harus percaya
pada sesuatu – insting, takdir, kehidupan, karma, apalah. Pendekatan ini tidak
pernah mengecewakan saya, bahkan telah membuat semua perubahan dalam kehidupan
saya.

Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan.
Apakah saya beruntung Saya menemukan apa yang saya sangat suka lakukan dalam
kehidupan lebih awal. Woz dan saya memulai Apple di garasi orangtua saya saat
usia saya 20 tahun. Kami bekerja dengan keras, dan dalam 10 tahun Apple telah
berkembang dari hanya kami berdua di garasi menjadi sebuah perusahaan senilai 2
milyar dollar dengan lebih dari
4000 pegawai. Kami baru saja meluncurkan karya terbaik kami – MacIntosh- setahun
yang lalu, dan saya baru saja berusia 30. Kemudian saya dipecat. Bagaimana bisa
kita dipecat dari perusahaan yang kita mulai. Hmm, seiring perkembangan Apple,
kami mempekerjakan seseorang yang saya
pikir sangat berbakat untuk menjalankan perusahaan dengan saya, dan semuanya
berjalan lancar di tahun-tahun pertama. Namun kemudian pandangan kami mengenai
masa depan mulai berbeda dan akhirnya kami saling bertentangan. Dewan direksi
memihak ia. Jadi pada usia 30 saya keluar. Dan itu sangat terbuka. Apa yang
telah menjadi fokus kehidupan
saya telah hila ng, dan itu sangat menyakitkan.Saya benar-benar tak tahu apa
yang harus dikerjakan selama beberapa
bulan. Saya merasa bahwa saya sudah mengecewakan generasi pengusaha sebelumnya –
bahwa saya telah menjatuhkan tongkat yang telah diserahkan kepada saya. Saya
bertemu DAvid Packard dan Bob Noyce dan mencoba meminta maaf karena telah
mengacaukan segalanya. Saya merasa sangat gagal di hadapan masyarakat, dan saya
bahkan berpikir untuk pergi dari
situ. Tapi sesuatu perlahan mulai terpikir. Saya masih mencintai apa yang telah
saya lakukan. Kejadian di Apple tidak merubah sedikitpun.Saya telah ditolak,
namun saya masih mencintainya. Jadi saya memutuskan untuk memulai lagi.

Saya tidak sadar saat itu, tapi ternyata dipecat dari Apple merupakan hal
terbaik yang pernah terjadi dalam diri saya. Beban berat menjadi sukses
digantikan dengan perasaan enteng menjadi orang baru lagi, menjadi kurang yakin
mengenai apa saja. Hal ini membebaskan saya untuk
memasuki salah satu periode paling kreatif dalam kehidupan saya.

Selama lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah perusahaan bernama NeXT,
sebuah perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta dengan seorang wanita luar
biasa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar berlanjut dengan menciptakan film
dengan fitur animasi komputer yang
pertama kali di dunia, Toy Storu, dan kini menjadi studio animasi paling sukses
di dunia. Dalam salah satu peristiwa yang luar biasa,Apple membeli NeXT, saya
kembali ke Apple, dan teknologi yang kamikembangkan di NeXT menjadi jantung
kehidupan Apple. Dan Laurene dan saya bersama-sama memiliki keluarga yang
bahagia.

Saya cukup yakin bahwa hal ini tidak ada yang akan terjadi jika saya tidak
dipecat dari Apple. Memang sebuah pil pahit buat saya, namun saya pilir memang
ini diperlukan. Terkadang kehidupan memukul kita dengan sangat keras. Jangan
hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya
yang membuat saya terus bertahan adalah…………… saya mencintai apa yang
saya lakukan.
Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai, dan satu-satunya
cara untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa adalah mencintai apa yang kalian
lakukan. Jika kalian belum menemukannya,teruslah mencari. Jangan menetap. Sama
seperti semua hal mengenai hati,kalian akan tahu saat kalian menemukannya. Dan
seperti hubungan yangindah, ini akan membaik seiring waktu.

Jadi teruslah mencari hingga kau temukan. Jangan menetap.

Cerita saya yang ketiga mengenai kematian.
Ketika saya berusia 17 tahun, saya membaca sebuah kalimat bijak yang bunyinya
seperti ini, “Jika kau menjalani tiap hari dalam hidupnya seakan itu adalah hari
terakhirnya, suatu akhir mungkin saja kau benar.” Ini sungguh mengesankan saya,
dan sejak saat itu, selama 33
tahun terakhir, saya memandangi cermin setiap pagi dan bertanya pada diri
sendiri, “Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidupku, apakah aku akan mau
melakukan apa yang akan aku lakukan hari ini” Dan setiap kali jawabannya adalah
“Tidak” terlalu lama selama beberapa hari, saya
tahu saya perlu mengubah sesuatu. Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat
adalah hal yang paling penting yang saya temukan untuk menolong saya membuat
keputusan penting
dalam hidup. Karena hampir semuanya semua keinginan,semua kebanggaan, semua
ketakutan akan malu atau kegagalan – akan menjadi tidak penting dibandingkan
menghadapi kematian, sehingga hanya itu saja yang benar-benar penting. Mengingat
bahwa kalian akan mati merupakan cara terbaik yang saya gunakan untuk
menghindari perangkap pemikiran kalian
akan kehilangan sesuatu. Kalian sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak
menuruti kata hati.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosa mengidap kanker. Saya menjalani scan
pukul 7.30 pagi, dan tampqk jelas sebuah tumor di pankreas saya. Saya bahkan
tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter memberitahu saya bahwa hampir
dipastikan ini jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan harapan hidup saya
hanya enam bulan lagi. Dokter
saya menganjurkan saya pulang ke rumah dan membereskan urusan saya,sebenarnya
ini isyarat dokter untuk mempersiapkan kematian. Ini berarti mencoba memberitahu
anak-anak kita semuanya yang kita pikir baru akan dikatakan 10 tahun mendatang
dalam waktu hanya beberapa bulan kemudian. Ini berarti harus memastikan semuanya
sudah beres sehingga sebisa mungkin meringankan keluarga. Ini berarti ucapan
selamat tinggal. Saya hidup dengan diagnose itu sepanjang hari. Sore harinya
saya menjalani biopsi, dimana mereka memasukkan sebuah endoskopi melalui
tenggorokan, perut, usus, memasukkan jarum ke dalam pankreas, dan
mengambil beberapa sel dari tumor. Sewaktu itu saya dibius, namun istri saya,
yang saat itu hadir, memberitahu saya bahwa ketika para dokter memeriksa sel-sel
dengan mikroskop, mereka mulai berteriak karena ternyata sel-sel itu adalah
jenis kanker pankreas yang cukup jarang dan dapat disembuhkan melalui operasi.
Saya melalui operasi itu
dan baik-baik saja hingga saat ini.

Itu adalah saat terdekat saya menghadapi kematian, dan saya berharap hanya
itulah hingga beberapa dekade mendatang. Karena sudah melalui tahapan ini, saya
bisa lebih yakin mengatakan ini bahwa kematian adalah sebuah konsep yang berguna
namun murni intelektual.

Tidak ada yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin ke surga tidak mau
mencapainya dengan cara mati. Namun kematian adalah tujuan sama untuk kita
semua. Tidak ada yang bisa menghindarinya. Dan seperti itu seharusnya karena
Kematian mungkin merupakan satu-satunya penemuan terbaik dari Kehidupan. Itu
adalah agen perubahan Kehidupan. Ia
memberikan jalan untuk yang baru dengan menyingkirkan yang lama. Kali ini yang
baru adalah kalian, namun suatu hari tidak lama dari sekarang, kalian akan
menjadi tua dan disingkirkan. Maaf jika ini terdengar terlalu dramatis, namun
memang demikian.

Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan dengan hidup dalam kehidupan orang
lain. Jangan diperangkap oleh dogma, yaitu hidup dengan hasil daya pikir orang
lain. Jangan biarkan opini orang lain mengaburkan suara hati kalian. Dan yang
terpenting, punyailah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu.
Terkadang mereka sudah tahu kalian akan menjadi apa. Yang lainnya hanyalah
sampingan. Ketika saya masih muda, ada sebuah terbitan luar biasa bernama
Katalog
Seluruh Dunia, yang menjadi salah satu kitab suci generasi saya. Ini dikarang
oleh seseorang bernama Stewart Brand tak jauh dari sini di Menlo Park, dan ia
menghidupkannya dengan sentuhan puitisnya. Ini terbit akhir tahun ’60-an,
sebelum komputer pribadi dan penerbitan menggunakan desktop, jadi itu semua
dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Seperti Google dalam
bentuk buku 35 tahun sebelum

Google muncul: itu adalah hal idealis dan dilengkapi dengan alat bantu yang
keren dan catatan yang bagus. Stewart dan timnya mengeluarkan beberapa edisi
Katalog Seluruh Bumi,
dan ketika sudah beredar, mereka mengeluarkan edisi terakhir. Itu pertengahan
tahun ’70-an, dan saya seusia kalian. Di halaman belakang edisi terakhir mereka
ada sebuah foto mengenai jalan perkampungan waktu
dini hari, jalan yang mungkin kalian akan ikuti jika kalian suka berpetualang.
Di bawahnya ada kata-kata” :Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.” Itu adalah pesan
perpisahan mereka sebelum mereka pergi.Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. Dan saya
selalu berharap hal itu untuk saya sendiri. Dan sekarang, kalian sebagai lulusan
baru, saya mengharapkan itu untuk kalian.Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.

IQ Rendah, Bakat dan Keterbatasan Fisik adalah bukan penghalang…

Posted on Updated on

Richard Branson bukan murid cemerlang ketika sekolah, seperti yang anda duga –ia menderita disleksia parah dan berjuang keras selama menempuh pendidikan akademisnya, ia merasa malu dengan kekurangannya dalam membaca sehingga menghabiskan waktu berjam-jam untuk menghafalkannya bila ia tahu harus membaca di depan umum. Nilai tingkat kecerdasannya rendah dan jelas dia bukan siswa yang pandai bagi guru-gurunya.

Bagaimana Richard Branson beranjak dari yang kurang menjanjikan semasa kanak-kanak menjadi seorang otak besar dibelakang 150 perusahaan yang membawa nama Virgin, dengan kekayaan diperkiraan sekitar 3 milyar poundsterling.

Alat ukur kecerdasan (IQ) gagal mengukur ambisinya yang menyala-nyala., yang mendorongnya menemukan jalan keluar kreatif terlepas dari apapun masalahnya. Tes-test psikologi juga gagal mengenali kemampuan membagi visi dan impiannya kepada orang lain.

Dulu Ian Trope adalah “anak kecil yang bodoh” dalam permainan bola. Karena sebegitu bodohnya maka tidak ada seorang pun yang menginginkannya dalam Tim mereka. Ayahnya seorang penyapu jalanansi tempat tinggalnya didaerah Sydney dan melaporkan bahwa anaknya adalah seorang alergi kaporit!.

Dalam waktu 10 tahun Ian Trope telah berhasil menjadi perenang pria termuda yang mewakili Australia, Menjadi juara termuda dalam kejuaraan renang dunia, Memecahkan empat rekor dunia dalam waktu 4 hari pada usia 16 tahun dan akhirnya terpilih menjadi “Atlet Terbaik Seduia”.

Lance Amstrong adalah seorang penderita kanker yang memenangi lomba balap sepeda Tour de France 6 kali berturut-turut. Tour de France adalah balap sepeda yang berat dimana tiap-tiap pembalap harus berlomba selama 20 hari dan harus menempuh jarak sejauh 200 Km. Medan datar, naik turun di pegunungan Alpen dan Pyrenees harus mereka hadapi. Bagaimana Lance Amstrong dapat memenangi kejuaraan tersebut 6 kali berturut-turut?

Jawabnya adalah dedikasi dan semangat pantang menyerah. Dengan kemauan yang luar biasa dan latihan yang teratur ternyata telah membangun system imun yang fenomenal. Sikap Armstrong terhadap kegagalan adalah belajar darinya kemudian maju ke depan. Pada kejuaraan tahun 2000 Armstrong gagal pada sebuah tanjakan di pegunungan Alpen. Dan itu adalah kegagalan terburuknya selama 6 kejuaraan terakhir. Maka pada musim semi berikutnya, Armstrong datang kembali ke daerah tersebut untuk berlatih dan menaklukan kembali tanjakan tersebut.

Selamat berjuang menaklukan hidup Anda!

(Di kutip dari buku yang berjudul “buku pintar mind map” karangan Tony Buzan.. Penerbit PT. Garmedia Pustaka Utama.)