Bulan: September 2018

Problem Penyusunan KPI?? Ya Penyusunannya itu sendiri

Posted on

Banyak buku yang membahas cara menyusun KPI tetapi isinya tidak mengajarkan cara menyusun cara KPI.Akibatnya cukup fatal, selain kinerja yang diharapkan tecapai, waktu mereka habis untuk mengumpulkan data dan pengukurannya.

Apa KPI seorang sales? omset penjualan? memang benar, baik dan tidak seorang sales adalah dari hasil penjualannya. Faktor utama yang harus diperhatikan dalam menyusun KPI adalah “FAKTOR-FAKTOR YANG BISA DIKENDALIKAN”. Omset penjualan bisa dimasukan ke daftar point penilaian tetapi tidak bisa dikendalikan artinya kalo jeblok ya jeblok tidak diputar ulang. Beda dengan Jumlah customer yang dihubungi setiap harinya. Kita bisa menentukan berapa jumlah customer yang akan dihubungi setiap harinya dan meningkatnnya setiap bulan.

Apa KPI seorang Petugas Kebersihan? Tingkat Kebersihan? betul ! tapi harus diingat tingkat kebersihan tergantung “jumlah berapa kali bersih-bersih setiap harinya” dan waktu bersih-bersihnya. Makanya Ketepatan jam masuk kerja bisa dimasukan ke daftar KPInya seorang petugas kebersihan. Jika jadwal kerjanya adalah 1 Jam sebelum karyawan lainnya masuk ya harus dimonitor. Karena akan membuat tidak nyaman jika karyawan lain sudah masuk petugas kebersihan masih bersih-besih. disini “WAKTU” yang menjadi penting.

Apa KPI seorang Programmer?Jumlah error di progam yang ditulisnya? Untuk menulis program yang baik banyak faktor yang mempengaruhi.Seperti jumlah function yang sudah memiliki unit test, prosentase kode yang sudah direview, bahkan jumlah jam kerja juga berpengaruh.Kelebihan jam kerja cukup berpengaruh ke kualitas kode yang ditulisnya. Perlu seorang “EXPERT DIBIDANGNYA” untuk menyusun sebuah KPI yang berhubungan dengan keahlian.

Bagaimana dengan jabatan yang sifatnya pelayanan seperti CS atau IT Support? untuk pengukurannya bisa dilakukan survey ke customer masing-masing. KPI ini sifatnya berjamaah arti satu nilai buat semua orang dan ini bagus untuk kerjasama tim.

“SUMBER DATA PENILAIAN” sangat penting dalam penyusunan KPI. Janganlah kita membuat KPI yang sumber datanya tidak ada atau absurd seperti kepatuhan atau tingkat disiplin tapi gantilah dengan jumlah temuan kesalahan.

Tingkat kehadiran bisa ya dan tidak dimasukan kedalam indikator kinerja. Jika ada pengaruhnya silahkan dimasukan seperti petugas kebersihan dan CS. Generasi jaman now agak sensi terhadap waktu.

Ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyusunan KPI antara lain cascading KPI, usahakan KPI bawahan mengungkit KPI atasannya biar ada kerjasama atasan bawahan.Kemudian model penyusunannya adakah top down atau KPI ditentukan dari pihak manajemen atau masing-masing karyawan dapat menyusunnya sendiri diawal tahun.ini ada plus minusnya, cukup panjang pembahasannya lain kali saja.

Iklan

Dari Business Analytics ke People Analytics

Posted on

Customer first atau employee first? lebih mementingkan pelanggan atau karyawan. Business analytics lebih menitikberatkan perbaikan proses bisnis guna memenuhi kepuasan pelanggan dan meningkatkan penjualan. Tetapi kadang lupa, yang menciptakan nilai tambah itu adalah karyawan. Top personil-lah yang menciptakan produk terbaik, menciptakan pendapatan dan menemukan cara melakukan efesiensi.

Banyak alasan mengapa para praktisi HR harus berubah paradigma diantaranya adalah dampak dari kemajuan teknologi digital dipangsa kerja. Dengan banyaknya portal-portal lowongan pekerjaan sekarang dengan mudah mencari lowongan pekerjaan yang diinginkan beserta tawaran gajinya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat loyalitas karyawan. Para praktisi HR dituntut untuk berfikir dan bertindak seperti seorang CEO. Mereka dituntut untuk membawa kekuataan tenaga kerjanya sesuai dengan visi misi perusahaan.

Jika sebelumnya memberikan masukan ke manajemen hanya jika dibutuhkan, sekarang harus ikut memikirkan kebutuhan bisnis kedepannya dan memperkirakan seperti apa kebutuhan. Praktisi HR juga dituntut bisa menggunakan dan mengolah data HRIS dan ERP untuk melakukan analisa dan prediksi sesuai kebutuhan organisasi.Seperti bagaimana caranya menarik kandidat terbaik? bagaimana cara menyeleksi untuk mendapatkan kandidat karyawan yang terbaik?bagaimana mempertahankan dan mengembangkan orang-orang yang tepat? bagaimana memberi reward? bagaimana mempersiapan suksesi.

Amazon mengunakan business analytics dan big data untuk merekomendasikan buku yang akan dibeli dan 30 % revenue dari hasil rekomendasi ini. Netflix juga melakukan hal yang sama untuk merekomendasikan film yang akan ditonton.

Banyak perusahaan menggunakan sentiment analysis-nya facebook dan twitter untuk menentukan dan memprediksi jumlah penjualan dari suatu produk. Tahun 2012 Obama juga menggunakan social media untuk memenangkan pilpres,begitu juga Trump.

FBI bisa memprediksi serangan teror dari social media, pesan dari aplikasi messenger serta cctv .Bahkan google bisa memprediksi penyebaran flu 2 minggu ke depan pada tahun 2009.

Terimakasih buat teknologi Big Data dan Machine Learning.The world of work has changed! So, how do we apply it in HR to help solve current challenges?