Benteng Digital (Digital Fortress)

Posted on Updated on

Strathmore, wakil direktur operasional NSA (National Security Agency) US begitu resah. Sebentar lagi hasil kerjanya selama bertahun-tahun akan musnah. Mesin pembobol password TRANSLTR yang dibangunnya selama bertahun-tahun dan telah menghabiskan jutaan dollar akan segera menjadi barang usang,hanya karena satu orang yaitu, Ensei Takado. Sebuah algoritma enkripsi berhasil diciptakannya. Sebuah kode dengan proses enkripsi yang dapat bermutasi dan text didalamnya dapat berotasi sehingga mustahil untuk dipecahkan. Sebentar lagi para teroris dan pengedar obat bius dapat berkomunikasi dengan bebas tanpa tersadap.

Ensei Takado sendiri adalah bekas karyawan NSA, dia keluar dari NSA dengan alasan karena TRANSLTR digunakan untuk memata-matai warga sipil. Akhirnya dia keluar dan menciptakan algoritma enkripsi baru untuk mencegah agar NSA tidak dipergunakan untuk mematai-matai warga sipil. Jika pihak NSA tidak menghentikannya, dia akan menyebar kodenya ke komunitas bebas.

Sebuah thriller teknologi yang bagus!! Tidak rugi untuk membacanya. Digital Fortress adalah salah satu karya Dan Brown selain The Davinci Code dan Angels and Daemons yang filmnya sekarang sedang diputar. Salah satu kelebihan dia adalah sebelum membuat novel adalah riset yang mendalam. Di dalam novel ini seluk beluk dunia kriptografy digambarkan secara akurat. Dari novel in juga Saya baru tahu ada yang namanya prinsip Bergofsky, yang menyatakan bahwa jika sebuah computer mencoba sejumlah kunci,maka secara matematis akan ditemukan kunci yang cocok. Teori Bergofsky ini yang melandasi teknologi pembobol password yang dikenal dengan istilah brute force.

Seperti biasa gaya bercerita Dan Brown sangat menarik, seakan-akan kita menonton sebuah adegan film, coba baca cuplikan dibawah ini,

Si penjaga mengagumi Susan saat wanita itu berjalan diatas lintasan semen. Penjaga itu memperhatikan bahwa mata Susan yang cokelat kekuningan dan tajam terasa jauh hari ini, tetapi pipihnya bersemu segar dan rambut sebahunya yang berwarna cokelat kemerahan tampak baru saja dikeringkan.Bau bedak bayi Johnson mengikuti langkahnya. Mata si penjaga beralih ke badan Susan yang ramping- ke blus putihnya dengan BH yang samar-samar terlihat, kemudian ke rok selututnya yang berwarna cokelat muda, dan akhirnya kearah kakinya…kaki Susan Fletcher. Sulit membayangkan kaki-kaki itu menyangga IQ sebesar 170.

Siapakah Susan ini? Seperti apakah sebenarnya Digital Fortress itu? Silahkan baca deh……

Jadi membayangkan jika seumpamnya punya teman programmer seperti Susan, koding semalam suntukpun gak masalah…secantik apakah Susan Fletcher. Manohara Pinot? Gak lah dia gendut? Dan sulit membayangkan wajah Manohara sedang koding.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.