Bulan: Juni 2009

Benteng Digital (Digital Fortress)

Posted on Updated on

Strathmore, wakil direktur operasional NSA (National Security Agency) US begitu resah. Sebentar lagi hasil kerjanya selama bertahun-tahun akan musnah. Mesin pembobol password TRANSLTR yang dibangunnya selama bertahun-tahun dan telah menghabiskan jutaan dollar akan segera menjadi barang usang,hanya karena satu orang yaitu, Ensei Takado. Sebuah algoritma enkripsi berhasil diciptakannya. Sebuah kode dengan proses enkripsi yang dapat bermutasi dan text didalamnya dapat berotasi sehingga mustahil untuk dipecahkan. Sebentar lagi para teroris dan pengedar obat bius dapat berkomunikasi dengan bebas tanpa tersadap.

Ensei Takado sendiri adalah bekas karyawan NSA, dia keluar dari NSA dengan alasan karena TRANSLTR digunakan untuk memata-matai warga sipil. Akhirnya dia keluar dan menciptakan algoritma enkripsi baru untuk mencegah agar NSA tidak dipergunakan untuk mematai-matai warga sipil. Jika pihak NSA tidak menghentikannya, dia akan menyebar kodenya ke komunitas bebas.

Sebuah thriller teknologi yang bagus!! Tidak rugi untuk membacanya. Digital Fortress adalah salah satu karya Dan Brown selain The Davinci Code dan Angels and Daemons yang filmnya sekarang sedang diputar. Salah satu kelebihan dia adalah sebelum membuat novel adalah riset yang mendalam. Di dalam novel ini seluk beluk dunia kriptografy digambarkan secara akurat. Dari novel in juga Saya baru tahu ada yang namanya prinsip Bergofsky, yang menyatakan bahwa jika sebuah computer mencoba sejumlah kunci,maka secara matematis akan ditemukan kunci yang cocok. Teori Bergofsky ini yang melandasi teknologi pembobol password yang dikenal dengan istilah brute force.

Seperti biasa gaya bercerita Dan Brown sangat menarik, seakan-akan kita menonton sebuah adegan film, coba baca cuplikan dibawah ini,

Si penjaga mengagumi Susan saat wanita itu berjalan diatas lintasan semen. Penjaga itu memperhatikan bahwa mata Susan yang cokelat kekuningan dan tajam terasa jauh hari ini, tetapi pipihnya bersemu segar dan rambut sebahunya yang berwarna cokelat kemerahan tampak baru saja dikeringkan.Bau bedak bayi Johnson mengikuti langkahnya. Mata si penjaga beralih ke badan Susan yang ramping- ke blus putihnya dengan BH yang samar-samar terlihat, kemudian ke rok selututnya yang berwarna cokelat muda, dan akhirnya kearah kakinya…kaki Susan Fletcher. Sulit membayangkan kaki-kaki itu menyangga IQ sebesar 170.

Siapakah Susan ini? Seperti apakah sebenarnya Digital Fortress itu? Silahkan baca deh……

Jadi membayangkan jika seumpamnya punya teman programmer seperti Susan, koding semalam suntukpun gak masalah…secantik apakah Susan Fletcher. Manohara Pinot? Gak lah dia gendut? Dan sulit membayangkan wajah Manohara sedang koding.

Jalan Cinta….

Posted on Updated on

Ada 2 orang yang selalu aku tunggu tulisannya yaitu Taufik Ismail dan Jalaluddin Rahmat.Tulisan2 beliau ini selalu mencerahkan dan penuh hikmah. Puisi-puisi yang dilantunkan oleh Taufik Ismail selalu indah penuh makna, apalagi bila dibawakan langsung oleh beliau.Enak ditelinga,sejuk dihati.

Ide tulisan ini  berasal dari buku yang berjudul “The Road to ALLAH” karangan Jalaluddin Rahmat, buku yang bagus untuk bahan perenungan bagaimana kita seharusnya menjadikan cinta sebagai agama.

“Ketika  syariat membutakan mata kita dari Allah dan ilmu pengetahuan menjadi hijab/penghalang hati dari Allah”

dahulu kala,pada zaman nabi Musa. hiduplah seorang gembala yang  miskin tetapi mempunyai rasa cinta yang luar biasa kepada Allah.Setiap hari sambil mengembalakan ternaknya, gembala tadi melantukan jeritan hatinya.

“Duhai Pangeran tercinta,dimanakah Engkau, supaya aku dapat mempersembahkan hidupku pada MU, Dimanakah Engkau supaya aku dapat menghambakan diriku pada MU. Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernafas, karena berkat-Mu pula aku hidup dan bernafas.Aku ingin mengorbankan dombaku ke hadapan kemulian-MU.Wahai Tuhanku dimanakah Engkau supaya aku dapat menjahit baju-MU,supaya aku dapat menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-MU?Dimanakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkaan sepatu-MU dan membawakan air susu untuk minuman-MU“.

Hingga suatu saat Nabi Musa lewat dan melihat gembala tadi melantukan nyanyian hatinya,”Dengan siapa kamu berbicara”.tanya Musa.Gembala tadi menjawab ,

“Dengan ia yang telah menciptakan kita.Dengan Dia yang telah menguasai siang dan malam, bumi dan langit”.

Musa murka mendengar jawaban gembala tadi. “Betapa beraninya kamu berbicara seperti Tuhan,apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran.Kamu harus menyumpalkan kapas kemulutmu supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu.Apakah Tuhan seorang manusia biasa, sehingga harus memakai sepatu?Apakah Tuhan seoarng anak kecil sehingga membutuhkan susu?”

Gembala tadi bangkit dan menangis setelah tahu yang menegurnya adalah seorang nabi,dia bergetar ketakutan dan berkata “Kamu telah menyalakan api dijiwaku.Sejak hari ini aku akan berjanji mengatupkan mulutku selamanya”.

Setalah itu nabi Musa pergi,dengan perasaan bahagia karena merasa telah meluruskan jiwa yang sesat.Tetapi ditengah perjalanan Allah SWT menegurnya. “Mengapa engaku berdiri diantara Kami dengan kekasih yang setia?Mengapa engkau pisahkan pencinta dengan kekasih dicintainya?Kami telah mengutus engkau untuk menggabungkan kekasih dengan kekasihnya,bukan memisahkan ikatan diantaranya”.

Cerita tersebut menggambarkan bahwa untuk mendekat ke Allah Swt tidak diperlukan kecerdasan yang tinggi dan keilmuan yang dalam. Malah terkadang pengetahuan syariat kita justru membutakan hati kita dan ilmu pengetahuan yang kita miliki menjadi penghalang dari Allah swt.

Mengapa kita menggambarkan Tuhan yang bukan Maha Penyanyang dan Mengapa kita harus menggambarkan Nabi kita dengan wujud seram dan menakutkan

Pada jaman dahulu ada seorang muadzin yang hidup dinegara yang mayoritas non muslim.Muadzin ini bersikeras agar melantukan adzan dengan pengeras suara. Teman-temannya menasehati dia supaya tidak usah memakai pengeras suara, tapi muadzin tersebut menolak dengan alasan syiar islam.Hari-hari berlalu dan tetap si muadzin tadi menolak saran teman-temannya untuk tidak menggunakan pengeras suara.hingga pada suatu hari didatangai seorang Bapak,dengan membawa buah-buahan sebagai tanda terima kasih kepada muadzin tadi.”Jika aku punya emas permata, akan aku masukan kedalam mulutmu sebagai tanda terima kasihku kepadamu” kata Bapak tadi.

Selidik punya selidik, ternyata Bapak tersebuat mempunyai seorang putri yang sangat tertarik dengan ajaran Islam. Sehingga Bapak tadi membatasi pergaulan dengan sekelilingnya, sehingga putrinya tersebut jatuh sakit. Ketika sakit itulah dia mendengar adzan dan bertanya kepada kepadanya Bapaknya.”Suara apakah itu Ayah“.”itu suara adzan anakku,itu adalah panggilan bagi orang islam untuk menunaikan ibadahnya“.

Mengapa jelek sekali suaranya!!”.Kata anak tersebut dan sejak saat itu pula hilang ketertarikannya dengan Islam. Cerita tersebut adalah karangan Jalaluddin Rumi, beliau ingin memberi contoh bagaimana seharusnya kita beragama.

Jadi,Apakah masih pantas kita memakai pakaian putih-putih dengan suara lantang “Allahu Akbar!!” dijalan-jalan?Apakah masih pantas amar ma’ruf dengan membawa pedang kemana-mana?

mengapa tidak kita ambil jalan Ibu Theresa dengan kaum papa di India?atau jalan Gandhi dengan Ahimsanya.Atau jalan Dr. Junus dengan bank untuk kaum miskin di Bangladesh.Nelson Mandela yang dapat memaafkan kaum kulit putih yang telah memenjarakannya selama bertahun-tahun.

Bisakah kita menampakan sifat kita seperti ketika Nabi Muhammad ketika dilempari batu ketika berdakwah, dan Beliau memaafkannya…

Bisa kita menampakan sifat kita seperti Nabi Muhammad diludahi tiap hari oleh seorang yahudi dan Beliau tetap dapat memaafkannya….

“…Ada dua hal mengapa aku rela kamu meninggalkanku. Pertama aku tidak cinta kamu, tetapi menyayangimu.Aku akan merelakan apa saja asal kamu bahagia! yang kedua kamu bukanlah yang terbaik bagiku..Aku memilih kamu karena aku sanggup menerima segala kekuranganmu….”