Bulan: April 2008

Steve Jobs “Saya tetap bodoh!”

Posted on Updated on

steve-jobsFuneral Dream -: Steve Jobs (CEO of Apple Computer) Story- Funeral Dream –
I remember the first i wrote this. some inner voice inspired me to share with
other seekers. may be their experience, ur experience or my experience can be
inspired other people :)Saturday, September 22, 2007
Steve Jobs (CEO of Apple Computer) Story
Terjemahan dalam bahasa Indonesia (dapat dari milis id-mac, diposting oleh
Untung Wijaya)

Saya diberi kehormatan untuk bersama kalian di hari pertama di salah satu
universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah. Bahkan
sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat dalam upacara wisuda. hari ini
saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya. Hanya itu, tidak lebih.
Hanya tiga cerita.

Cerita pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik.
Saya putus kuliah dari Reed College setelah 6 bulan pertama, tapi saya tetap ada
di kampus selama 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar berhenti. Jadi
kenapa saya keluar, Dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang
mahasiswi muda dan tidak menikah, ia memutuskan untuk menyerahkan saya untuk
diadopsi. Ia sangat menginginkan agar saya diadopsi oleh lulusan universitas,
jadi semuanya sudah diatur agar saya akan diadopsi pada
saat lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Hanya saja, saat saya lahir,
mereka ternyata menginginkan seorang anak perempuan. Jadi orangtua angkat saya,
yang masuk dalam daftar tunggu, menerima telepon di tengah malam yang
menanyakan: “Kita ada satu bayi laki-laki, kalian mau” Mereka berkata, “Tentu
saja.” Di kemudian hari ibu kandung saya menemukan bahwa ibu angkat saya tidak
pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya tidak pernah lulus SMA. Ibu kandung
saya menolak menandatangani berkas akhir adopsi. Ia baru rela beberapa bulan
kemudian ketika orangtua angkat saya berjanji bahwa saya akan kuliah suatu hari
nanti.

Dan 17 tahun kemudian saya benar-benar masuk kuliah. Namun bodohnya saya memilih
tempat kuliah yang nyaris sama mahalnya dengan Stanford, dan seluruh tabungan
orang tua angkat saya habis untuk membiayai kuliah saya. Setelah enam bulan,
saya tidak dapat melihat arti kuliah ini.Saya tidak punya tujuan hidup dan tidak
mengerti bagaimana kuliah dapat
menolong saya memiliki tujuan hidup. Sedangkan saya sudah menghabiskan semua
uang orangtua saya yang telah mereka tabung seumur hidup. Jadi saya memutuskan
untuk keluar dan percaya semuanya akan beres. Cukup menakutkan juga saat itu,
tapi jika saya tengok kembali itu adalah salah satu keputusan terbaik yang
pernah saya buat. Begitu saya putus
kuliah saya dapat berhenti masuk kelas wajib yang tidak saya sukai, dan mulai
masuk ke kelas yang tampaknya menarik.
Tidak selamanya romantis sih. Saya tidak punya kamar asrama, jadi saya tidur di
lantai kamar teman saya, saya menukar botol coke di deposit 5 untuk membeli
makanan, dan saya akan berjalan sejauh 7 mil melintasi kota setiap minggu malam
untuk mendapatkan makan malam yang enak di
kuil Hare Krishna. Aku sangat menyukainya. Dan ternyata dengan menuruti rasa
ingin tahu dan intuisi, saya memperoleh hal yang berharga di kemudian hari. Ini
salah satu contohnya:

Reed College pada masa itu mungkin memiliki tulisan kaligrafi terbaik di negeri
ini.Di semua poster kampus, semua label di setiap laci, ditulis tangan dengan
kaligrafi yang indah. Karena saya sudah keluar dari kuliah dan tidak harus
mengambil kelas tertentu, saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi untuk
belajar caranya. Saya belajar tipe tulisan serif dan san serif, tentang
memvariasikan jumlah jarak antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang
membuat para tipografis hebat menjadi hebat. Itu adalah sesuatu yang indah,
bersejarah, berseni, sedemikian rupa sehingga ilmu pengetahuan tidak
dapat menyamainya, dan menurut saya itu sungguh mengagumkan.
Tidak ada satupun yang sepertinya akan diterapkan dalam kehidupan saya. Namun
sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macintosh pertama,
semuanya saya ingat kembali. Dan kami merancangnya di Mac. Itu adalah komputer
pertama dengan tipografi yang indah. Jika saya tidak ikut kelas itu di kuliah,
maka Mac tidak akan punya beragam tulisan atau huruf yang berjarak dengan
proporsional. Dan karena Windows hanya meniru Mac, sepertinya tidak ada PC yang
akan memiliki tipografi yang indah. Jika saja saya tidak pernah putus kuliah,
saya tidak akan pernah belajar di kelas kaligrafi ini, dan komputer pribadi
tidak akan
memiliki tipografi yang bagus seperti sekarang ini. Tentu saja tidak mungkin
menghubungkan titik-titik itu ke masa depan saat saya masih di kampus. Tapi
terlihat sangat, sangat jelas jika ditinjau sepuluh tahun kemudian. Sekali lagi,
kita tidak dapat menghubungkan titik-titik di masa depan; kita hanya dapat
menghubungkannya saat kita menengok ke belakang. Jadi kita harus percaya bahwa
titik-titik itu suatu saat akan terhubung di masa mendatang. Kita harus percaya
pada sesuatu – insting, takdir, kehidupan, karma, apalah. Pendekatan ini tidak
pernah mengecewakan saya, bahkan telah membuat semua perubahan dalam kehidupan
saya.

Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan.
Apakah saya beruntung Saya menemukan apa yang saya sangat suka lakukan dalam
kehidupan lebih awal. Woz dan saya memulai Apple di garasi orangtua saya saat
usia saya 20 tahun. Kami bekerja dengan keras, dan dalam 10 tahun Apple telah
berkembang dari hanya kami berdua di garasi menjadi sebuah perusahaan senilai 2
milyar dollar dengan lebih dari
4000 pegawai. Kami baru saja meluncurkan karya terbaik kami – MacIntosh- setahun
yang lalu, dan saya baru saja berusia 30. Kemudian saya dipecat. Bagaimana bisa
kita dipecat dari perusahaan yang kita mulai. Hmm, seiring perkembangan Apple,
kami mempekerjakan seseorang yang saya
pikir sangat berbakat untuk menjalankan perusahaan dengan saya, dan semuanya
berjalan lancar di tahun-tahun pertama. Namun kemudian pandangan kami mengenai
masa depan mulai berbeda dan akhirnya kami saling bertentangan. Dewan direksi
memihak ia. Jadi pada usia 30 saya keluar. Dan itu sangat terbuka. Apa yang
telah menjadi fokus kehidupan
saya telah hila ng, dan itu sangat menyakitkan.Saya benar-benar tak tahu apa
yang harus dikerjakan selama beberapa
bulan. Saya merasa bahwa saya sudah mengecewakan generasi pengusaha sebelumnya –
bahwa saya telah menjatuhkan tongkat yang telah diserahkan kepada saya. Saya
bertemu DAvid Packard dan Bob Noyce dan mencoba meminta maaf karena telah
mengacaukan segalanya. Saya merasa sangat gagal di hadapan masyarakat, dan saya
bahkan berpikir untuk pergi dari
situ. Tapi sesuatu perlahan mulai terpikir. Saya masih mencintai apa yang telah
saya lakukan. Kejadian di Apple tidak merubah sedikitpun.Saya telah ditolak,
namun saya masih mencintainya. Jadi saya memutuskan untuk memulai lagi.

Saya tidak sadar saat itu, tapi ternyata dipecat dari Apple merupakan hal
terbaik yang pernah terjadi dalam diri saya. Beban berat menjadi sukses
digantikan dengan perasaan enteng menjadi orang baru lagi, menjadi kurang yakin
mengenai apa saja. Hal ini membebaskan saya untuk
memasuki salah satu periode paling kreatif dalam kehidupan saya.

Selama lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah perusahaan bernama NeXT,
sebuah perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta dengan seorang wanita luar
biasa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar berlanjut dengan menciptakan film
dengan fitur animasi komputer yang
pertama kali di dunia, Toy Storu, dan kini menjadi studio animasi paling sukses
di dunia. Dalam salah satu peristiwa yang luar biasa,Apple membeli NeXT, saya
kembali ke Apple, dan teknologi yang kamikembangkan di NeXT menjadi jantung
kehidupan Apple. Dan Laurene dan saya bersama-sama memiliki keluarga yang
bahagia.

Saya cukup yakin bahwa hal ini tidak ada yang akan terjadi jika saya tidak
dipecat dari Apple. Memang sebuah pil pahit buat saya, namun saya pilir memang
ini diperlukan. Terkadang kehidupan memukul kita dengan sangat keras. Jangan
hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya
yang membuat saya terus bertahan adalah…………… saya mencintai apa yang
saya lakukan.
Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai, dan satu-satunya
cara untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa adalah mencintai apa yang kalian
lakukan. Jika kalian belum menemukannya,teruslah mencari. Jangan menetap. Sama
seperti semua hal mengenai hati,kalian akan tahu saat kalian menemukannya. Dan
seperti hubungan yangindah, ini akan membaik seiring waktu.

Jadi teruslah mencari hingga kau temukan. Jangan menetap.

Cerita saya yang ketiga mengenai kematian.
Ketika saya berusia 17 tahun, saya membaca sebuah kalimat bijak yang bunyinya
seperti ini, “Jika kau menjalani tiap hari dalam hidupnya seakan itu adalah hari
terakhirnya, suatu akhir mungkin saja kau benar.” Ini sungguh mengesankan saya,
dan sejak saat itu, selama 33
tahun terakhir, saya memandangi cermin setiap pagi dan bertanya pada diri
sendiri, “Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidupku, apakah aku akan mau
melakukan apa yang akan aku lakukan hari ini” Dan setiap kali jawabannya adalah
“Tidak” terlalu lama selama beberapa hari, saya
tahu saya perlu mengubah sesuatu. Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat
adalah hal yang paling penting yang saya temukan untuk menolong saya membuat
keputusan penting
dalam hidup. Karena hampir semuanya semua keinginan,semua kebanggaan, semua
ketakutan akan malu atau kegagalan – akan menjadi tidak penting dibandingkan
menghadapi kematian, sehingga hanya itu saja yang benar-benar penting. Mengingat
bahwa kalian akan mati merupakan cara terbaik yang saya gunakan untuk
menghindari perangkap pemikiran kalian
akan kehilangan sesuatu. Kalian sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak
menuruti kata hati.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosa mengidap kanker. Saya menjalani scan
pukul 7.30 pagi, dan tampqk jelas sebuah tumor di pankreas saya. Saya bahkan
tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter memberitahu saya bahwa hampir
dipastikan ini jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan harapan hidup saya
hanya enam bulan lagi. Dokter
saya menganjurkan saya pulang ke rumah dan membereskan urusan saya,sebenarnya
ini isyarat dokter untuk mempersiapkan kematian. Ini berarti mencoba memberitahu
anak-anak kita semuanya yang kita pikir baru akan dikatakan 10 tahun mendatang
dalam waktu hanya beberapa bulan kemudian. Ini berarti harus memastikan semuanya
sudah beres sehingga sebisa mungkin meringankan keluarga. Ini berarti ucapan
selamat tinggal. Saya hidup dengan diagnose itu sepanjang hari. Sore harinya
saya menjalani biopsi, dimana mereka memasukkan sebuah endoskopi melalui
tenggorokan, perut, usus, memasukkan jarum ke dalam pankreas, dan
mengambil beberapa sel dari tumor. Sewaktu itu saya dibius, namun istri saya,
yang saat itu hadir, memberitahu saya bahwa ketika para dokter memeriksa sel-sel
dengan mikroskop, mereka mulai berteriak karena ternyata sel-sel itu adalah
jenis kanker pankreas yang cukup jarang dan dapat disembuhkan melalui operasi.
Saya melalui operasi itu
dan baik-baik saja hingga saat ini.

Itu adalah saat terdekat saya menghadapi kematian, dan saya berharap hanya
itulah hingga beberapa dekade mendatang. Karena sudah melalui tahapan ini, saya
bisa lebih yakin mengatakan ini bahwa kematian adalah sebuah konsep yang berguna
namun murni intelektual.

Tidak ada yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin ke surga tidak mau
mencapainya dengan cara mati. Namun kematian adalah tujuan sama untuk kita
semua. Tidak ada yang bisa menghindarinya. Dan seperti itu seharusnya karena
Kematian mungkin merupakan satu-satunya penemuan terbaik dari Kehidupan. Itu
adalah agen perubahan Kehidupan. Ia
memberikan jalan untuk yang baru dengan menyingkirkan yang lama. Kali ini yang
baru adalah kalian, namun suatu hari tidak lama dari sekarang, kalian akan
menjadi tua dan disingkirkan. Maaf jika ini terdengar terlalu dramatis, namun
memang demikian.

Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan dengan hidup dalam kehidupan orang
lain. Jangan diperangkap oleh dogma, yaitu hidup dengan hasil daya pikir orang
lain. Jangan biarkan opini orang lain mengaburkan suara hati kalian. Dan yang
terpenting, punyailah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu.
Terkadang mereka sudah tahu kalian akan menjadi apa. Yang lainnya hanyalah
sampingan. Ketika saya masih muda, ada sebuah terbitan luar biasa bernama
Katalog
Seluruh Dunia, yang menjadi salah satu kitab suci generasi saya. Ini dikarang
oleh seseorang bernama Stewart Brand tak jauh dari sini di Menlo Park, dan ia
menghidupkannya dengan sentuhan puitisnya. Ini terbit akhir tahun ’60-an,
sebelum komputer pribadi dan penerbitan menggunakan desktop, jadi itu semua
dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Seperti Google dalam
bentuk buku 35 tahun sebelum

Google muncul: itu adalah hal idealis dan dilengkapi dengan alat bantu yang
keren dan catatan yang bagus. Stewart dan timnya mengeluarkan beberapa edisi
Katalog Seluruh Bumi,
dan ketika sudah beredar, mereka mengeluarkan edisi terakhir. Itu pertengahan
tahun ’70-an, dan saya seusia kalian. Di halaman belakang edisi terakhir mereka
ada sebuah foto mengenai jalan perkampungan waktu
dini hari, jalan yang mungkin kalian akan ikuti jika kalian suka berpetualang.
Di bawahnya ada kata-kata” :Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.” Itu adalah pesan
perpisahan mereka sebelum mereka pergi.Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. Dan saya
selalu berharap hal itu untuk saya sendiri. Dan sekarang, kalian sebagai lulusan
baru, saya mengharapkan itu untuk kalian.Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.