Kita dan Web 2.0

Saya pribadi menggunakan internet dari tahun 1998 ketika bandwidth masih sangat mahal. Waktu itu pengguna email masih sangat terbatas dan yahoo masih merajalela dan Google adalah anak bawang. Internet Explorer dan Netscape Navigator masih dalam pertarungan yang sengit.

Untuk web development masih menggunakan CGI atau yang popular adalah ASP, PHP baru lahir. Java Applet sudah berkembang pesat tapi masih belum paham gimana membuatnya. Buku-buku masih terasa mahal untuk ukuran kantong saya waktu itu. Setelah 1 dekade lewat, akses internet sudah jadi kebiasaan, semua orang punya email, Google menjelma menjadi perusahaan raksasa. Netscape yang almarhum bangkit lagi dari kubur menjelma Mozzilla Firefox.

Facebook dan Twitter
Kehadiran Facebook dan Twitter menguatkan lagi fungsi teknologi informasi yaitu sebagai alat distribusi informasi dan tukar menukar informasi. Informasi yang dulunya mahal sekarang bersliweran disekitar kita. Disetiap udara yang kita hirup sebenarnya ada berita, foto,video dari segala penjuru dunia.
Mengapa orang kecanduan Facebook atau Twitter? Karena facebook dan Twitter mengembalikan fitrah kita semua sebagai mahluk social yaitu sebagai mahluk yang suka ngrumpi, mencuri dengar pembicaan orang lain dan sebagai mahluk yang suka pamer. Dengan Facebook kita dapat mengetahui kabar orang lain tanpa harus menanyakan kabarnya, kita dapat mengungkapkan perasaan kita dan pasti akan didengar oleh banyak orang.Kita dapat juga memamerkan kepandaian kita dan semua kelebihan kita dengan bebas.
Facebook dan Twitter adalah rekam jejak kita hidup didunia ini. Bayangkan 50 tahun lain, anak cucu kita dapat mengetahui apa yang kita lakukan, rasakan pada saat ini.

Nilai Ekonomis Web 2.0
Sebenarnya sederhana saja pemikirannya, dimana banyak orang berkumpul disitu mempunyai nilai ekonomis. Semakin banyak semakin tinggi. Tidak heran Google,Facebook,Twitter itu gratis tetapi mereka perusahaan yang kaya raya. Dengan mengetahui biodata dan apa yang di posting setiap hari adalah data yang sangat penting bagi seorang marketer. Mereka tanpa bersusah payah dan melakukan survey sudah mengetahui perilaku konsumen.
Sebagai software developer apa yang dapat kita pelajari dari sini? Kita dapat belajar membuat system yang humanis, bagaimana cara menyebarkan atau menyampaikan informasi. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pendiri Mc. Donald “Jika kita mampu membuat system yang mampu melayani jutaan orang maka kita pun akan menjadi jutawan”. Itu yang terjadi dengan facebook dan Twitter.

Explore posts in the same categories: General

3 Komentar pada “Kita dan Web 2.0”

  1. candra Berkata

    mantap gan… sosial enginernya… seandainya padi dan gandum yang dibutuhkan orang se dunia bisa di looping, mungkin enak sekali…

  2. erwinsusetya Berkata

    salam kenal dulu. mohon ijin untuk koment. wah saya setuju kalau kita bisa layani banyak orang kita akan kaya raya, namun di indonesia masalahnya untuk buat instrument playanan kayak Facebook dan google SDM nya banyak yang hijrah keluar negeri..karena kalo di inodnesuia kurang dihargai ;) jadi indonesia jadi blm maju maju heheh

  3. pristobenk Berkata

    salam kenal juga…memang benar,negara kita masih kurang dapat menghargai SDM-SDM terbaiknya sehingga banyak yg lari ke LN.terima kasih atas komen-nya


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.